Infographic: A New, Comprehensive Social Media Image Size Cheat Sheet For 2016

 

The team at New York-based digital marketing agency Mainstreethost have put together a handy, comprehensive cheat sheet to key social media image sizes for 2016. 

Creating a complete infographic of cheat sheets for Facebook, Instagram, YouTube and more, each of them consist of the various dimensions to alter your graphics into, helping you to appropriately present your brand visuals beautifully and easily, without going through the tedious task of looking up the details on your own. 


Check out the infographic below. 

 

source

The Top 100 Best Fonts Of All Time

download here: The Top 100 Best Fonts Of All Time

Top 100 Best Fonts Of All Time

Below you will find the full list of the best 100 fonts along with the designer & the year in which they were designed.

1. Helvetica [1957 - Max Miedinger]
2. Garamond [1530 - Claude Garamond]
3. Frutiger [1977 - Adrian Frutiger]
4. Bodoni [1790 - Giambattista Bodoni]
5. Futura [1927 - Paul Renner]
6. Times [1931 - Stanley Morison]
7. Akzidenz Grotesk [1966 - G nter Gerhard Lange]
8. Officina [1990 - Erik Spiekermann]
9. Gill Sans [1930 - Eric Gill]
10. Univers [1954 - Adrian Frutiger]
11. Optima [1954 - Hermann Zapf]
12. Franklin Gothic [1903 - Morris Fuller Benton]
13. Bembo [1496 - Francesco Griffo]
14. Interstate [1993 - Tobias Frere-Jones]
15. Thesis [1994 - Lucas de Groot]
16. Rockwell [1934 - Frank H. Pierpont]
17. Walbaum [1800 - Justus Walbaum]
18. Meta [1991 - Erik Spiekermann]
19. Trinit [1982 - Bram De Does]
20. Din [1926 - Ludwig Goller]
21. Matrix [1986 - Zuzana Licko]
22. OCR [1965 - American Type Founders]
23. Avant Garde [1968 - Herb Lubalin]
24. Lucida [1985 - Chris Holmes / Charles Bigelow]
25. Sabon [1964 - Jan Tschichold]
26. Zapfino [1998 - Hermann Zapf]
27. Letter Gothic [1956 - Roger Roberson]
28. Stone [1987 - Summer Stone]
29. Arnhem [1998 - Fred Smeijers]
30. Minion [1990 - Robert Slimbach]
31. Myriad [1992 - Twombly & Slimbach]
32. Rotis [1988 - Olt Aicher]
33. Eurostile [1962 - Aldo Novarese]
34. Scala [1991 - Martin Majoor]
35. Syntax [1968 - Hans Eduard Meier]
36. Joanna [1930 - Eric Gill]
37. Fleishmann [1997 - Erhard Kaiser]
38. Palatino [1950 - Hermann Zapf]
39. Baskerville [1754 - John Baskerville]
40. Fedra [2002 - Peter Bil'ak]
41. Gotham [2000 - Tobias Frere-Jones]
42. Lexicon [1992 - Bram De Does]
43. Hands [1991 - Letterror]
44. Metro [1929 - W. A. Dwiggins]
45. Didot [1799 - Firmin Didot]
46. Formata [1984 - Bernd M llenst dt]
47. Caslon [1725 - William Caslon]
48. Cooper Black [1920 - Oswald B. Cooper]
49. Peignot [1937 - A. M. Cassandre]
50. Bell Gothic [1938 - Chauncey H. Griffith]
51. Antique Olive [1962 - Roger Excoffon]
52. Wilhelm Klngspor Gotisch [1926 - Rudolf Koch]
53. Info [1996 - Erik Spiekermann]
54. Dax [1995 - Hans Reichel]
55. Proforma [1988 - Petr van Blokland]
56. Today Sans [1988 - Volker K ster]
57. Prokyon [2002 - Erhard Kaiser]
58. Trade Gothic [1948 - Jackson Burke]
59. Swift [1987 - Gerald Unger] steel casting
60. Copperplate Gothic [1901 - Frederic W. Goudy]
61. Blur [1992 - Neville Brody]
62. Base [1995 - Zuzana Licko]
63. Bell Centennial [1978 - Matthew Carter]
64. News Gothic [1908 - Morris Fuller Benton]
65. Avenir [1988 - Adrian Frutiger]
66. Bernhard Modern [1937 - Lucian Bernhard]
67. Amplitude [2003 - Christian Schwartz]
68. Trixie [1991 - Erik van Blokland]
69. Quadraat [1992 - Fred Smeijers]
70. Neutraface [2002 - Christian Schwartz]
71. Nobel [1929 - Sjoerd de Roos]
72. Industria [1990 - Neville Brody]
73. Bickham Script [1997 - Richard Lipton]
74. Bank Gothic [1930 - Morris Fuller Benton]
75. Corporate ASE [1989 - Kurt Weidemann]
76. Fago [2000 - Ole Schafer]
77. Trajan [1989 - Carol Twombly]
78. Kabel [1927 - Rudolf Koch]
79. House Gothic 23 [1995 - Tal Leming]
80. Kosmik [1993 - Letterror]
81. Caecilia [1990 - Peter Matthias Noordzij]
82. Mrs Eaves [1996 - Zuzana Licko]
83. Corpid [1997 - Lucas de Groot]
84. Miller [1997 - Matthew Carter]
85. Souvenir [1914 - Morris Fuller Benton]
86. Instant Types [1992 - Just van Rossum]
87. Clarendon [1845 - Benjamin Fox]
88. Triplex [1989 - Zuzana Licko]
89. Benguiat [1989 - Ed Benguiat]
90. Zapf Renaissance [1984 - Hermann Zapf]
91. Filosofia [1996 - Zuzana Licko]
92. Chalet [1996 - House Industries]
93. Quay Sans [1990 - David Quay]
94. C zanne [1995 - Michael Want, James Grieshaber]
95. Reporter [1938 - Carlos Winkow]
96. Legacy [1992 - Ronald Arnholm]
97. Agenda [1993 - Greg Thompson]
98. Bello [2004 - Underware]
99. Dalliance [2000 - Frank Heine]
100. Mistral [1953 - Roger Excoffon]

Creative Sales, “Nyeleneh” Ala Pringsewu

Beberapa waktu lalu saya kebetulan mendapatkan tugas dinas keluar kota tepatnya ke daerah Cilacap – Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan saya memperhatikan terdapat banyak iklan “Sign Board” mengenai keberadaan sebuah restoran di salah satu kawasan rute jalan di Jawa Tengah yang akan saya lewati.

Dan bagi beberapa orang yang sering melakukan perjalanan ke daerah Jawa Tengah saya kira sudah bisa membaca apa nama restoran tersebut, terlebih bagaimana upaya promosi yang dilakukan restoran tersebut dengan memasang banyak iklan “Sign Board” *(dalam hal ini : material promosi berupa copywriting dan penunjuk arah yang diaplikasikan dalam media sederhana seperti papan kayu) di hampir setiap beberapa kilometer.

Bisa saya pahami upaya restoran tersebut dalam melakukan aktifitas promosi yang menurut saya sangat massive dan sedikit “nyeleneh”. Kita perhatikan saja secara geografis *(walaupun keberadaan restoran pringsewu juga terdapat di beberapa lokasi strategis di beberapa Kota di kawasan Jawa Tengah diantaranya Kota Solo dan Yogyakarta) keberadaan resto yang salah satunya berada tepat di jalur transportasi darat Trans Provinsi secara geografis rata-rata didominasi oleh rute jalan yang panjang, berbelok, terkadang cenderung menjenuhkan.

Berkaca pada kondisi tersebut saya kira upaya promosi melalui iklan “Sign Board” yang dipasang secara massive di setiap berapa kilometer jalur tersebut merupakan salah satu upaya promosi yang layak untuk dilakukan, kenapa? “Selain cost promosi yang sangat rendah dikarenakan iklan sign board ini berbeda dengan iklan media luar ruang lainnya seperti baligho / billboard yang mengharuskan kita membayar pajak besar, pemasangan iklan sign board yang dilakukan sangat massive juga bisa menimbulkan efek awarness yang diulang-ulang terlebih kondisi jalan yang sangat panjang. Dengan demikian saya kira strategi promosi ini worth to try, terlebih untuk sebuah bisnis yang tidak memiliki alokasi budget khusus untuk aktifitas promosi”.

Masih mengenai “Sign Board” selain pemasangannya yang dilakukan secara massive, hal lainnya menjadi perhatian adalah penggunaan material copywriting yang menurut saya sedikit “Nyeleneh”.

“Awas Lalat, Makan Makanan Bersih” Pringsewu 50 KM
“Awas Typus, Makan Makanan Bersih” Pringsewu
“Awas Ayam Tiren, Pilih Makanan Sehat” Pringsewu 10 KM
“Awas Daging Glonggongan, Makan Makanan Sehat” Pringsewu 

Nah jika biasanya dalam sebuah iklan media luar ruang yang kita perhatikan adalah informasi mengenai produk dilengkapi dengan beberapa keterangan gambar yang menarik, hal tersebut tidak akan kita temukan walaupun dalam iklan “Sign Board” pringsewu yang sebelumnya saya sebutkan sedikit “Nyeleneh” karena dalam iklan tersebut kita tidak disuguhkan informasi mengenai pringsewu (misal : menu favorit di pringsewu “Nikmati Ayam Bakar Citarasa Jawa Tengah”, fasilitas di restoran pringsewu “Playground & Rest Area Untuk Keluarga Anda”, harga dan paket promosi tertentu “Ayam Bakar Bumbu Jawa & Lemon Tea Hanya Rp.15.000,-”), namun lebih pada pencantuman kalimat-kalimat yang menurut saya pribadi ketika membacanya sedikit menggelitik.

 “Secara psikologis mungkin penggunaan kalimat tersebut bisa menimbulkan rasa penasaran dan rasa ingin tahu seperti apa itu pringsewu, nah jika target pringsewu hanya sekedar awarness dan mendatangkan konsumen mungkin strategi yang diterapkan bisa dianggap cukup berhasil. Namun jika kita bahas lebih spesifik pada faktor lainnya seperti membangun positioning dan asosiasi merk yang spesifik “sebut saja misal rumah makan dengan cita rasa jawa tengah” juga faktor percive quality “konsumen datang dikarenakan memang ingin menikmati olahan masakan khas jawa tengah ala pringsewu”, saya kira upaya yang mereka lakukan melalui iklan “Sign Board” ini perlu dikaji kembali khususnya dalam konten copywriting”.

Sederhananya mungkin terdapat beberapa konsumen yang secara psikologis khususnya yang pertama kali membaca akan memiliki rasa penasaran dan muncul rasa ingin tahu dalam dirinya, namun disatu sisi juga saya memiliki pandangan bagi sebagian orang jika dihadapkan dengan material copywriting yang sedikit “Nyeleneh” mungkin akan langsung muncul rasa ketidak tertarikan bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika terbangun persepsi negatif.

Jika kita berbicara Creativesales, salah satu upaya yang dilakukan oleh pringsewu dengan “Sign Board” tersebut saya kira merupakan upaya promosi yang cukup Worth To Try seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan mungkin itu salah satu contoh sederhana penerapan kreatifitas “dalam hal ini ide-ide Nyeleneh” kedalam bentuk aktifitas marketing (promosi) “dalam hal ini Sign Board”.

Selain Low Cost dan dilakukan secara Massive, iklan “Sign Board” dengan copywritingnya yang sedikit “Nyeleneh” seringkali mengalihkan perhatian kita yang melihatnya. Namun jika output yang ingin dihasilkan tidak hanya sekedar awarness saja, tapi meliputi asosiasi merk, percived quality, dan positioning maka saya kira material copywriting tersebut harus lebih disesuaikan. Jadi apakah anda tertarik untuk mampir? “Awas Ayam Tiren, Pilih Makanan Sehat” Pringsewu 10 KM

Sumber gambar: id-id.facebook.com

sumber: creative sales

Warna Logo & Efek Psikologisnya

















Warna selalu membangkitkan reaksi emosional. Beberapa orang lebih menyukai warna tertentu seperti merah, putih, biru atau hitam sedangkan sebagian lagi tidak menyukai warna tersebut karena itulah peran warna menjadi sangat krusial dan penting dalam menyampaikan pesan dalam dunia komuniskasi visual terutama dalam marketing, branding dan corporate identity.

Alam bawah sadar kita sudah terlatih untuk memberikan respon tertentu terhadap warna namun hal ini sangat dipengaruhi oleh budaya seperti warna hitam yang dipakai dieropa untuk acara kematian sedangkan pada budaya china justru warna putihlah yang dipilih. Warna dapat menyampaikan pesan sublimasi tentang persepsi dan indra sensori manusia yang akhirnya dapat mengubah cara kita berpikir tentang sebuah subjek. Sejak manusia purba hingga manusia modern, kita bergantung pada kemampuan kita mengindentifikasi warna demi kelangsungan hidup mulai dari membedakan makanan yang beracun hingga pada rambu lalu lintas.
Begitu pentingnya arti warna dalam kehidupan sehingga pada dunia desain penting sekali untuk memahami arti dari warna beserta efek emosional dan psikologis yang ditimbulkannya. Berikut ini adalah kilasan dari arti warna-warna secara umum untuk desain logo yang baik.

Merah atau Red

Warna ini sering digunakan dalam desain logo untuk mendapatkan perhatian pelanggan dan terbukti dapat meningkatkan gairah, rasa lapar hingga meningkatkan tekanan darah dan kadar adrenalin dalam darah. Arti dari warna merak ini adalah: Aksi, Petualangan, agresif, Darah, Bahaya, Energi, semangat, Cinta, Hasrat, Kekuatan dan Tenaga.

Merah Muda



Merah muda mewakili bagian feminin dari kehidupan manusia yang menggambarkan kelembutan dan cinta. Terkadang warna ini selain dianggap romantis juga terasosiasi dengan sifat kekanak-kanakan. Merah muda adalah varian lembut dari warna merah dan sering dimanfaatkan untuk menambahkan kesan feminin dalam sebuah logo. Selain itu warna merah muda atau pink ini dapat pula melambangkan perasaan yang halus, kewanitaan dan kemurnian serta karena gencarnya kampanye kesadaran terhadap penyakit kini warna ini sudah mulai terasosiasi dengan kanker payudara.

Oranye atau Merah Jambon atau Orange
Warna oranye atau merah jambon ini paling luas digunakan karena banyak sekali aspek yang terwakili oleh warna ini mulai dari kreatifitas, semangat, senang, periang, semangat tinggi dan antusiasme. Warna ini banyak sekali ditemukan dalam desain logo yang ingin menciptakan kesan bermain (playfulness) dan untuk menstimulasi sensori keriangan hingga selera makan.

Kuning atau Yellow
Warna ini adalah warna terkuat setelah merah yang sangat intens sehingga bila dipakai terlalu banyak akan menimbulkan kelelahan karena itu pakailah warna ini dengan sangat hati-hati dan seperlunya saja. Warna kuning ini melambangkan perhatian, keceriaan, bahagian, ingin tahu, senang, positif dan hangat. Sebagai warna yang cerah dan memiliki daya tarik yang paling tinggi dibandingkan dengan warna lain maka warna ini sering dipakai untuk rambu lalu lintas yang melambangkan hati-hati.

Hijau atau Green


Logo Perusahaan Pet's Jungle

Warna hijau mewakili kehidupan, kesegaran, lingkungan hidup dan pembaharuan. Warna hijau membangkitkan emosi yang menenangkan tetapi juga dapat berarti kurang pengalaman seperti dalam kiasan “masih hijau”. Akhir-akhir ini warna hijau kembali dalam panggung trend para desainer dengan slogan eco friendly dan kembali kealam. Warna hijau ini banyak dipakai dalam desain brosur, leaflet, x-banner, roll up banner, poster hingga spanduk bagi perusahaan yang ingin mencitrakan perusahaan mereka sebagai ramah lingkungan seperti green peace. Banyak unit bisnis yang sekarang mulai memakai warna hijau ini untuk menarik perhatian pelanggan dalam meningkatkan penjualan mereka karena meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya kelestariaan alam, hidup harmonis dengan alam hingga berbagai gerakan penghijauan seperti menanam seribu pohon trambesi bahkan di indonesia kesadaran akan lingkungan ini telah jauh meningkat dengan terjunnya konglemerasi dalam kegiatan yang berbau pelestarian lingkungan.

Biru atau Blue
Biru termasuk salah satu warna yang paling populer dalam desain logo bahkan hampir 83% orang mencantumkan warna ini sebagai salah satu warna favorit mereka. Langit dan lautan yang berwarna biru melambangkan sesuatu yang luas dan tanpa batas. Biru juga menggambarkan rasa tenang, berwibawa, percaya diri, kesetiaan dan kesuksesan. Warna ini bahkan dipakai pada hampir semua logo perusahaan Top 500 Fortune diamerika serikat dan bukan hanya para pebisnis yang menyukai warna ini, para tokoh super hero seperti superman, spiderman atau wonder women selalu memakai kostum dengan aksen biru tersebut.

Ungu atau violet
Pada zaman dahulu warna ini terasosiasi dengan kerajaan dan mewah karena proses pembuatan warna ungu ini sangatlah sulit. Pada saat ini warna ini melambangkan kemewahan, misteri, fantasi, kecerdasan, spiritual dan bangsawan.

Coklat atau Brown


Desain Logo Cafe Coffee Drips

Warna ini melambangkan kesederhanaan, membumi, rendah hati, terpercaya dan serius. Salah satu logo terkenal yang memakai warna coklat adalah UPS sebuah perusahaan pengiriman barang ekspedisi karena warna ini juga melambangkan daya tahan.

Hitam atau black
Hitam banyak dipakai dalam logo yang melambangkan teknologi, kecanggihan, klasik, konservatif. Warna hitam termasuk salah satu dari warna netral yang hampir dapat dipastikan cocok dengan warna lain apapun.

Dari penjabaran diatas warna-warna yang bisa ditemukan pada desain logo dan bagaimana setiap desainer dan para marketer sudah harus memikirkan warna sejak pertama kali bekerja dengan mempertimbangkan segala makna dari warna yang akan dipilih atau tidak akan dipilih. Satu hal yang patut diingat adalah psikologi warna dan efek emosinalnya terkait erat dengan budaya dan proses penciptaan dan pencitraanya berubah sepanjang waktu dan tempat.
01.22Sablon Kaos Satuan