Tampilkan postingan dengan label Branding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Branding. Tampilkan semua postingan

Creative Sales, “Nyeleneh” Ala Pringsewu

Beberapa waktu lalu saya kebetulan mendapatkan tugas dinas keluar kota tepatnya ke daerah Cilacap – Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan saya memperhatikan terdapat banyak iklan “Sign Board” mengenai keberadaan sebuah restoran di salah satu kawasan rute jalan di Jawa Tengah yang akan saya lewati.

Dan bagi beberapa orang yang sering melakukan perjalanan ke daerah Jawa Tengah saya kira sudah bisa membaca apa nama restoran tersebut, terlebih bagaimana upaya promosi yang dilakukan restoran tersebut dengan memasang banyak iklan “Sign Board” *(dalam hal ini : material promosi berupa copywriting dan penunjuk arah yang diaplikasikan dalam media sederhana seperti papan kayu) di hampir setiap beberapa kilometer.

Bisa saya pahami upaya restoran tersebut dalam melakukan aktifitas promosi yang menurut saya sangat massive dan sedikit “nyeleneh”. Kita perhatikan saja secara geografis *(walaupun keberadaan restoran pringsewu juga terdapat di beberapa lokasi strategis di beberapa Kota di kawasan Jawa Tengah diantaranya Kota Solo dan Yogyakarta) keberadaan resto yang salah satunya berada tepat di jalur transportasi darat Trans Provinsi secara geografis rata-rata didominasi oleh rute jalan yang panjang, berbelok, terkadang cenderung menjenuhkan.

Berkaca pada kondisi tersebut saya kira upaya promosi melalui iklan “Sign Board” yang dipasang secara massive di setiap berapa kilometer jalur tersebut merupakan salah satu upaya promosi yang layak untuk dilakukan, kenapa? “Selain cost promosi yang sangat rendah dikarenakan iklan sign board ini berbeda dengan iklan media luar ruang lainnya seperti baligho / billboard yang mengharuskan kita membayar pajak besar, pemasangan iklan sign board yang dilakukan sangat massive juga bisa menimbulkan efek awarness yang diulang-ulang terlebih kondisi jalan yang sangat panjang. Dengan demikian saya kira strategi promosi ini worth to try, terlebih untuk sebuah bisnis yang tidak memiliki alokasi budget khusus untuk aktifitas promosi”.

Masih mengenai “Sign Board” selain pemasangannya yang dilakukan secara massive, hal lainnya menjadi perhatian adalah penggunaan material copywriting yang menurut saya sedikit “Nyeleneh”.

“Awas Lalat, Makan Makanan Bersih” Pringsewu 50 KM
“Awas Typus, Makan Makanan Bersih” Pringsewu
“Awas Ayam Tiren, Pilih Makanan Sehat” Pringsewu 10 KM
“Awas Daging Glonggongan, Makan Makanan Sehat” Pringsewu 

Nah jika biasanya dalam sebuah iklan media luar ruang yang kita perhatikan adalah informasi mengenai produk dilengkapi dengan beberapa keterangan gambar yang menarik, hal tersebut tidak akan kita temukan walaupun dalam iklan “Sign Board” pringsewu yang sebelumnya saya sebutkan sedikit “Nyeleneh” karena dalam iklan tersebut kita tidak disuguhkan informasi mengenai pringsewu (misal : menu favorit di pringsewu “Nikmati Ayam Bakar Citarasa Jawa Tengah”, fasilitas di restoran pringsewu “Playground & Rest Area Untuk Keluarga Anda”, harga dan paket promosi tertentu “Ayam Bakar Bumbu Jawa & Lemon Tea Hanya Rp.15.000,-”), namun lebih pada pencantuman kalimat-kalimat yang menurut saya pribadi ketika membacanya sedikit menggelitik.

 “Secara psikologis mungkin penggunaan kalimat tersebut bisa menimbulkan rasa penasaran dan rasa ingin tahu seperti apa itu pringsewu, nah jika target pringsewu hanya sekedar awarness dan mendatangkan konsumen mungkin strategi yang diterapkan bisa dianggap cukup berhasil. Namun jika kita bahas lebih spesifik pada faktor lainnya seperti membangun positioning dan asosiasi merk yang spesifik “sebut saja misal rumah makan dengan cita rasa jawa tengah” juga faktor percive quality “konsumen datang dikarenakan memang ingin menikmati olahan masakan khas jawa tengah ala pringsewu”, saya kira upaya yang mereka lakukan melalui iklan “Sign Board” ini perlu dikaji kembali khususnya dalam konten copywriting”.

Sederhananya mungkin terdapat beberapa konsumen yang secara psikologis khususnya yang pertama kali membaca akan memiliki rasa penasaran dan muncul rasa ingin tahu dalam dirinya, namun disatu sisi juga saya memiliki pandangan bagi sebagian orang jika dihadapkan dengan material copywriting yang sedikit “Nyeleneh” mungkin akan langsung muncul rasa ketidak tertarikan bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika terbangun persepsi negatif.

Jika kita berbicara Creativesales, salah satu upaya yang dilakukan oleh pringsewu dengan “Sign Board” tersebut saya kira merupakan upaya promosi yang cukup Worth To Try seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan mungkin itu salah satu contoh sederhana penerapan kreatifitas “dalam hal ini ide-ide Nyeleneh” kedalam bentuk aktifitas marketing (promosi) “dalam hal ini Sign Board”.

Selain Low Cost dan dilakukan secara Massive, iklan “Sign Board” dengan copywritingnya yang sedikit “Nyeleneh” seringkali mengalihkan perhatian kita yang melihatnya. Namun jika output yang ingin dihasilkan tidak hanya sekedar awarness saja, tapi meliputi asosiasi merk, percived quality, dan positioning maka saya kira material copywriting tersebut harus lebih disesuaikan. Jadi apakah anda tertarik untuk mampir? “Awas Ayam Tiren, Pilih Makanan Sehat” Pringsewu 10 KM

Sumber gambar: id-id.facebook.com

sumber: creative sales

Ide-Ide Kreatif yang Mampu Mengubah Kota Menjadi Lebih Hidup

Pada tahun 2012, TED Prize memberikan hadiah sebesar masing-masing $10.000 kepada sepuluh pemenang untuk mendanai local project yang akan mendukung penciptaan City 2.0.Sebuah pencarian ide-ide cemerlang, pekerjaan pada tingkat akar rumput untuk membuat kota lebih indah dengan kualitas hidup tinggi dan berkelanjutan. TED Prize akan membuat sebuah platform yang memungkinkan warga dari seluruh dunia berpartisipasi dalam penciptaan City 2.0. Platform ini akan merangsang, menghubungkan dan memberdayakan individu dan komunitas di seluruh dunia.




City 2.0 merupakan semacam global Wikipedia yang menghubungkan warga, para pemimpin politik, ahli perkotaan, perusahaan dan organisasi non profit dengan tujuan:


1. Mengurangi kesenjangan antara masyarakat miskin dan kaya


2. Mengurangi emisi karbon


3. Meningkatkan kualitas hidup


4. Memberdayakan kewirausahaan


5. Meningkatkan kualitas pendidikan


6. Meningkatkan kesehatan.


City 2.0 diharapkan akan menjadi jaringan antar warga diseluruh dunia dengan ide-ide kreatif yang terus berkembang, yang akan terus melakukan evaluasi dan pembelajaran dari pengalaman. Selanjutnya adalah kisah-kisah menarik dari berbagai kota di seluruh dunia, cerita bagaimana ide-ide kreatif mereka memberikan kontribusi kepada masyarakat di kota. I am the City 2.0. Dream me. Build me. Make me real.






1. Berlin, Germany





Pada ulang tahun ke 775 kota Berlin, sebuah tim yang terdiri dari 8 seniman membuat peta raksasa di tengah alun-alun kota. Peta sepanjang 2.500 meter ini dibuat dengan skala 1:775. Pada tanggal 25 Agustus bulan lalu, para pengunjung dapat berjalan di atas peta, mencari lokasi dimana rumah mereka berada dan menunjukkannya kepada para turis yang sedang berada di Berlin.









Via: The Atlantic






2. Manhattan, United States


John Locke, seorang arsitek lulusan Columbia University memiliki ide kreatif dengan mengubah telepon umum koin di daerah kota Manhattan menjadi rak-rak penuh dengan buku. Konsep yang dipelopori oleh Locke’s Imaginary Departement of Urban Betterment ini bertujuan untuk berbagi kepada warga kota Manhattan dengan meminjamkan buku gratis.






Peminjam buku diharapkan mengganti buku yang mereka pinjam dengan buku berbeda yang mereka miliki di hari berikutnya. Konsep perpustakaan telepon umum gratis ini masih memiliki banyak kendala. Beberapa koleksi buku yang dipinjam terkadang tidak kembali atau beberapa kali mengalami perusakan oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab. Walaupun masih jauh dari ideal, Locke tetap berencana untuk menambah perpustakaan telepon ini ke beberapa tempat. Dengan bekal kemampuannya dari Universitas Columbia, John Locke berencana membuat rak buku dengan desain yang lebih kuat untuk mencegah perusakan perpustakaan.


Via: New York Times






3. Agueda, Portugal





Pada bulan Juli yang lalu, di kota Agueda (sebuah kota di Portugis) beberapa ruas jalan dihiasi dengan payung penuh dengan warna. Payung-payung yang menghiasi jalanan ini seolah-olah terlihat melayang. Instalasi ini merupakan ide kreatif dewan kota dan merupakan bagian dari festival seni Agitagueda.









Via: My Modern Met






4. New York City, United States


Urban Agriculture atau pertanian perkotaan telah menjadi trend di kota New York, AS dengan lebih dari 700 produsen penghasil makanan. Kota New York telah berubah dari atap-atap bangunan, halaman sekolah dan taman yang kosong menjadi tempat bagi tumbuhnya makanan. Aktivitas yang berkaitan dengan pertanian perkotaan banyak memberikan kontribusi bagi kesehatan warga kota, manfaat sosial, ekonomi dan ekologi.






Akan tetapi, instansi pemerintah yang berkaitan dengan pertanian perkotaan belum memberikan kebijakan atau peraturan untuk mengkoordinasikan seluruh aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pertanian perkotaan.






Pada tahun 2009, Design Trust for Public Space menyerukan untuk meningkatkan ruang publik di kota New York, dengan masukan dari berbagai organisasi di seluruh kota. Organisasi ini bertujuan untuk membentuk suatu kerangka kerja bersama dan mengembangkan suatu alat yang dapat mengorganisir segala aktivitas pertanian di perkotaan, mengevaluasi dampak sosial, ekonomi serta manfaat ekologi. Selain itu organisasi ini juga bertujuan mengembangkan rekomendasi kebijakan yang dapat membantu pertanian perkotaan supaya menjadi suatu industri berkelanjutan.


Via: Five Borough Farm






5. Kampala, Uganda


Ruganzy Bruno Tusingwire, seorang seniman dan aktivis pemberdayaan masyarakat memiliki ide kreatif dan imajinatif dengan mengajak bermain anak-anak dari negara asalnya, Uganda. Hal ini dilakukan dengan cara mengubah ribuan botol air plastik menjadi taman hiburan di mana anak-anak yang tinggal di daerah kumuh dapat bermain dan belajar.






Selain terkenal dengan kemiskinan dan kurangnya akses terhadap pendidikan yang memadai, setidaknya 3.000 anak di daerah Uganda bagian Utara terjangkit penyakit misterius “nodding disease.” Penyakit ini mengakibatkan pertumbuhan fisik pada anak menjadi lambat hingga gangguan mental dan para ahli di bidang kedokteran hingga saat ini belum menemukan jawaban atas penyakit ini.






Atas keprihatinan ini, Tusingwire merasa terpanggil untuk memberikan kontribusi kepada anak-anak yang tinggal di daerah kumuh. Ide untuk membuat taman hiburan muncul ketika Tusingwire mempelajari Eco Art di Kyambago University. Bersama-sama dengan seniman lokal, mereka membuat taman hiburan dengan bahan yang mudah ditemukan, yaitu sampah plastik. Seniman Pauline Kael pernah berkata: “Sampah telah memberi kita semangat untuk berkesenian.” Di tangan seorang visioner seperti Tusingwire, seni mampu memberikan semangat hidup baru dan kreatifitas kepada anak-anak.


Via: The City 2.0






6. Rio De Janeiro, Brazil


Berada di tengah kota Rio De Janeiro, dua orang laki-laki memberikan kontribusi kepada masyarakat yang kurang mampu. Bersama dengan komunitas Santa Marta mereka membuat tempat-tempat kumuh di kota Rio de Janeiro menjadi bercahaya. Jeroen Koolhaas dan Dre Urhahn pada awalnya datang ke daerah favelas Brasil pada tahun 2005 untuk membuat film dokumenter musik hip hop untuk MTV, akan tetapi setelah project MTV selesai, duo Belanda yang dikenal sebagai Haas & Hahn memulai Favela Painting.









Mereka datang mewarnai daerah-daerah yang tidak terduga, atau mereka sering menyebutnya dengan istilah “outrageous works of art to unexpected places.” Pada setiap project mereka selalu melibatkan pemuda sekitar untuk ikut berpartisipasi sebagai bagian dari kesatuan yang tidak terpisah. Hasil karya kreatif mereka dapat dilihat pada website resmi Favela Painting atau di Facebook.


Via: Flavor Wire






7. Toronto, Canada





Menjelang Pan Am Games Toronto 2015, panitia acara sudah mulai mempromosikan acara dengan cara yang kreatif. (Pan American atau Pan Am Games adalah event olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade musim panas). Salah aspek dalam kampanye ini adalah piano. Sebanyak 41 piano diwarnai dengan warna yang mewakili negara-negara peserta Pan Am Games. Piano-piano ini kemudian didistribusikan ke lokasi yang berbeda di sekitar kota. Project ini dikenal dengan slogannya “Play Me, I’m Yours.” Pria dibalik ide kreatif ini adalah Lukas Jerram, yang telah tampil di beberapa kota di seluruh dunia.









Via: Torontoist






8. London, England


Selain di kota New York, pertanian perkotaan juga menjadi trend di kota London, Inggris. Sebuah tim yang terdiri dari seniman, engineering, sosiolog merubah sebuah pertanian perkotaan di kota London menjadi gaya hidup. Project yang dinamakan Farm:shop yang merupakan “London’s first urban farming hub” dengan menyediakan berbagai produk pertanian, perikanan, hasil laut yang dilengkapi dengan kafe.









Tim ini terdiri dari Andrew Merritt, Paul Symth dan Sam Henderson, yang membentuk sebuah kelompok bernama Something & Son. Mereka juga telah membuat karya instalasi patung dengan menggunakan furnitur dan tanaman dan mereka juga telah mengubah mobil menjadi sebuah taman. Semua karya mereka berfokus pada Eco Art dengan mengintegrasikan estetika dan manfaat pertanian, khususnya pertanian perkotaan.


Via: Fast Company






9. Adelaide, Australia


Crowdsourcing the Quiet adalah sebuah platform berbasis aplikasi smartphone dan web dimana orang dapat menemukan ruang yang tenang di kota. Jason Sweeney, pria yang memiliki ide kreatif ini kini bekerja sama dengan studio desain lokal Future FreeRange untuk mengembangkan aplikasi smartphone dan website. Baik menggunakan website atau aplikasi pada smartphone, kini orang dapat menemukan tempat-tempat yang tenang di kota Adelaide.




sumber


Wow Creative!! Polisi dari Kardus Berhasil Tipu Pengguna Jalan di India


Di Indonesia patung polisi sudah biasa ditemukan di pinggir jalan meski kini jumlahnya tak banyak lagi. Rupanya India juga memiliki ide serupa namun dengan bahan yang lain. Di India memajang banner dari kardus hasil print foto polisi di pinggir jalan. 

Pihak kepolisian membuat langkah kreatif tersebut untuk menurunkan angka kecelakaan di jalan. Hal itu sangat membantu karena kepolisian kesulitan menambah 3 ribu petugas lalu lintas untuk berjaga di jalan-jalan di seluruh India. Jalanan sibuk di kota Bangalore pun menjadi percobaan dan dinilai berhasil. 

"Polisi tidak bisa hadir di setiap jalan dan perempatan karena kami tidak memiliki kekuatan sebesar itu," kata komisaris polisi Dr. MA Saleem. "Kecenderungan dari pengguna jalan adalah setiap mereka melihat tidak ada petugas maka mereka mencoba melanggar peraturan lalu lintas." 

Ternyata penempatan banner dari kardus itu cukup efektif membuat pemakai jalan takut. Meski begitu tak sedikit yang merasa tertipu sehingga menimbulkan respon negatif dari publik. 

"Efeknya sudah cukup baik. Banyak orang ketika mereka melihat dari jarak yang agak jauh, mereka segera berputar balik," lanjut Saleem. "Bahkan salah satu pengendara mobil berbicara dengan banner itu." (wk/mr)

sumber : www.wowkeren.com



Basic Personal Branding


Personal Branding ! Pernahkah anda mendengarkan istilah itu sebelumnya ? Personal branding dalam kehidupan sehari – hari lebih dikenal dengan “Pencitraan” atau cara pandang orang lain terhadap kepribadian kita. Sesungguhnya Pencitraan dan cara pandang orang lain merupakan bagian kecil dari keseluruhan konsep Personal Branding

6 Kiat Sukses Branding



Dalam memasarkan sebuah merek terdapat ada enam prinsip dasar yang harus diketahui oleh para pembuat keputusan.

Menurut Managing Partner Inventure Yuswohadi, prinsip yang pertama adalah product advertise themselves. Merek yang paling bagus adalah ketika dia mampu menjual dirinya sendiri. Namun, hal ini memang tidak mudah.

“Contohnya adalah Steve Jobs yang menjual sendiri brand Apple. Sebelum peluncuran produk baru, mereka selalu membuat iklannya terlebih dahulu. Nantinya, kinerja marketing communication akan semakin sedikit,” kata Yuswohadi dalam acara Corsec Marcomm Forum 2013 yang diselenggarakan Bisnis Indonesia, Kamis (28/2).

Prinsip kedua, integrating online-offline activation. Pola yang mewajibkan integrasi keduanya dinilai sudah menjadi tren. Perusahaan harus mampu mengintegrasikan program konvensional yang sedang dijalankan dengan situs sosial media seperti You Tube, Twitter, Facebook.

Ketiga, buzz your story used social channel effectively. Harus ada cerita yang dibangun terkait dengan merek. Keempat, perusahaan harus mampu memanfaatkan untuk membangun merek di saat ada peristiwa yang menarik atau menjadi topik utama.

Kelima, perusahaan bisa dengan membangun sebuah komunitas yang bisa diberdayakan untuk membantu meningkatkan penjualan produk. "Terakhir, perusahaan harus mampu bersaing dengan produk yang sama dengan harga terjangkau, tanpa mengurangi kualitas. Samsung, yang menjadi kompetitor kuat Apple telah berhasil melakukannya,” tuturnya. (yus)

sumber : http://archive.bisnis.com/articles/pemasaran-merek-inilah-6-kiat-sukses-branding

7 Tips Menggoda Konsumen di Twitter


Indonesia memang bukan negara terbanyak pengguna Twitter, urutannya nomor 5 (Data januari 2012) tapi Jakarta adalah kota dengan paling banyak tweet dan Bandung di urutan ke-6 (Data Juni 2012) dibandingkan semua kota di seluruh dunia. Artinya apa? Artinya orang Jakarta (terutama) ga banyak di Twitter, tapi paling eksis :D !!! Jadi jangan suka heran kalo paling hobi nyumbang Trending Topic dari soal video porno sampai bulu mata Cherrybelle.. semua bisa jadi populer :D

Semakin banyaknya orang yang hilir mudik di Twitter bolehlah kita coba manfaatkan, jadikan mereka sebagai leads kita. Setelah kita jadikan leads tentu saja donk waktunya kita membuat mereka mau beli atau sekedar coba produk kita. Simak 7 tips praktis berikut ini yang bisa menggoda goda si target market kita yang sering keliaran di Twitter untuk lebih akrab dengan kita, jatuh cinta dengan brand kita dan akhirnya bisa membeli lebih banyak, lebih sering atau bahkan merekomendasikan ke teman-teman mereka.

Ide-Ide Kreatif yang Mampu Mengubah Kota Menjadi Lebih Hidup

Pada tahun 2012, TED Prize memberikan hadiah sebesar masing-masing $10.000 kepada sepuluh pemenang untuk mendanai local project yang akan mendukung penciptaan City 2.0.Sebuah pencarian ide-ide cemerlang, pekerjaan pada tingkat akar rumput untuk membuat kota lebih indah dengan kualitas hidup tinggi dan berkelanjutan. TED Prize akan membuat sebuah platform yang memungkinkan warga dari seluruh dunia berpartisipasi dalam penciptaan City 2.0. Platform ini akan merangsang, menghubungkan dan memberdayakan individu dan komunitas di seluruh dunia.

I amsterdam, Bagaimana Kota Amsterdam Berhasil Membangun Sebuah “City Brand”






Amsterdam telah lama tidak masuk dalam daftar European Grand Tour. Akan tetapi, pada awal abad 21 kota Amsterdam melihat posisinya yang telah turun pada berbagai peringkat teratas tujuan wisata internasional, kota teratas tujuan konvensi, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan meningkatnya kompetisi dari tujuan lain di Eropa, terutama kota-kota di Spanyol dan Eropa Timur. Untuk mempertahankan posisinya sebagai tempat teratas tujuan pariwisata dan bisnis, kerjasama swasta-publik dibentuk untuk mengubah citra Amsterdam dengan program kampanye marketing kota yang baru. Pada bulan September 2004, lahirlah nama I amsterdam. I amsterdam adalah slogan dan brand all in one, baik untuk masyarakat dan kota Amsterdam itu sendiri.









Kita semua telah akrab dengan brand komersial, akan tetapi apakah arti brand untuk kota? Menurut Konsultan Brand Saffron, pencipta barometer Saffron European City Brand Barometer,“brand” untuk tempat adalah “persepsi rata-rata atau umum dan asosiasi orang dengan tempat tersebut”. Hal ini, tentu saja persepsi subjektif berdasarkan selera pribadi dan pengalaman, namun secara umum terdapat kesadaran budaya tertentu terhadap gagasan kota yang dibentuk oleh media dan marketing.


Itu semua adalah harapan Amsterdam Partners, kerjasama publik-swasta yang dibentuk untuk mengembangkan dan memasarkan ibukota Belanda untuk memperluas dan sedikit mengubahcultural “awareness” dengan berfokus pada apa yang mereka identifikasi sebagai nilai inti dari kota: kreativitas (creativiteit), inovasi (innovatie) dan semangat perdagangan (handelsgeest). Ketiga nilai yang telah didefinisikan ditentukan setelah profil kota terbentuk berdasarkan 16 aspek yang berbeda dari Amsterdam, direpresentasikan dalam diagram berikut, yang menjelaskan persepsi tentang kota (dalam warna merah) dan pergeseran persepsi yang diharapkan dengan kampanye marketing yang baru (dalam warna hitam).






Untuk itu, mereka menginginkan konsep branding yang beragam yang akan menarik tidak hanya wisatawan, tetapi untuk mereka yang tinggal di daerah sekitar Amsterdam, serta untuk bisnis. Slogan kota sebelumnya seperti “Amsterdam Has It” atau “Capital of Sport” dan “Small City, Big Business” masih dianggap terlalu bias atau terlalu terfokus pada satu aspek dari kota sehingga dapat merugikan orang lain. “I amsterdam”, bagaimanpun dapat dikenali secara langsung seperti logo kota “I love NY”, yang telah menarik beberapa inspirasi. Kota Amsterdam mengundang anda untuk menjadi bagian darinya “I amsterdam and you can be too”.




Identitas baru ini dilengkapi dengan semua ekstensi dan aksesoris dari setiap kampanye marketing kontemporer: sebuah situs yang mudah diakses, akun twitter, halaman Facebook, dan bahkan sebuah aplikasi. Dan kemudian terdapat huruf merah dan putih setinggi dua meter yang menggambarkan slogan/brand. Sebagai hasil dari popularitas, brand I amsterdam terus menyebar di seluruh web blog, majalah, situs foto, dan pencarian gambar Google.













Apakah I amsterdam berhasil? Angka pariwisata telah naik, bisnis semakin membaik dan sekali lagi Amsterdam telah mengkokohkan posisinya di lima kota tujuan teratas Eropa berdasarkan kekuatan brand dan aset budaya. Dalam delapan tahun, I amsterdam tidak hanya menjadi bagian dari indentitas budaya, namun telah menjadi sebuah landmark. Bagaimana dengan kota-kota di Indonesia? Apakah keberhasilan city branding Amsterdam dapat diikuti kota di Indonesia?






sumber

City Branding Strategi menjual sebuah kota

Mungkin kita semua pernah mendengar, melihat dan membaca tentang Malaysia Trully Asia, Hongkong Asias World City,Uniquely Singapore, Amazing Thailand, WOW (Wealth of Wonders) Philippines, Vietnam A Destination for the New Millenium,Macao Welcome You, Bangalore The Silicon Valley of India, Osaka Sports Paradise, Best on Earth in Perth. Atau yang ada di negara Indonesia seperti Jogja Never Ending Asia, Enjoy Jakarta dan Semarang The Beauty of Asia. Penggalan kata-kata tersebut diatas dimaksudkan untuk menggambarkan negara atau daerah itu sendiri. Kata-kata tersebut juga dilengkapi dengan logo-logo yang sangat menarik. Tujuannya tak lain adalah untuk menarik berbagai pihak untuk datang dan menikmati apa yang disuguhkan oleh negara atau daerah yang memberikan merek untuk negara dan daerahnya.